![]() |
| pict is made by Nano Banana. Pahamilah ia tidak paham konteks, jadi dia membuat sesuai asumsinya saja hehe |
Pertama kalinya dalam hidup saya, hampir satu minggu terhitung sampai detik saya mengetikkan tulisan ini, tepat momen pergantian tahun, saya tidak kunjung membaik 100% kesehatannya. Mengenai penyebabnya? Sayapun bingung haha, tapi ada satu yang pasti. Sedari tanggal perayaan natal pada 25 Desember 2025 , saya tidak kunjung menemukan lagi ultra milk dalam kemasan 1 liter yang sebelumnya sering saya beli-beli untuk kebutuhan asupan mingguan dirumah. Mungkin seiring meningkatnya keterbutuhan susu ultra milk di MBG (Makan Bergizi Gratis- program pemerintah), hal itu yang menyebabkan kelangkaan di beberapa toko kelontong, minimarket, dan swalayan (berdasarkan asumsi prematur saya). Padahal yang dibutuhkan ya kemasan kecil yang bisa disisipkan di ompreng itu kan. Mengapa jadi yang kemasan 1 liter yang langka? Rasanya rindu sekali dengan susu alami yang hampir tiap hari mewarnai hari saya. Dari situ, pikiran saya gak karuan. Ditambah akan ada pergantian tahun sehingga membuat pergolakkan di dalam diri ini semakin menjadi jadi; dari berbagai sisi.
Pikiran akan ini itu menggrogoti pikiran, pernyataan bahwa aku tidak hanya hidup untuk diriku dan aku tidak hanya memikirkan diriku sendiri benar adanya. Tapi bagaimana bila yang dipikirkan tidak perduli dengan dirinya sendiri, apa yang harus kita perbuat? Hah sudah lah terlalu kapalan kaki ini melangkah pada suatu hal yang tidak ada sorak gemuruh orang didalamnya. Atau, akankah semua ini akan menjadi sia-sia pada akhirnya? Apa yang sedang aku tuju? Mengapa terlahir sebagai seorang wanita yang dituntut punya masculine energy begitu banyak begitu memenjarakan fitrah? Akankah 2026 menjadi titik balik atas semua hal yang memuakkan ini?
Diandalkan. Dari dulu aku paling tidak suka dengan statement itu, atau merasa seperti itu. Terlahir menjadi anak pertama bukan keinginanku, tapi aku takkan bisa memesan takdir yang takkan pernah bisa ku ubah itu. Sedari kecil aku selalu bermimpi bahwa aku bisa hidup dengan sosok kakak yang akan selalu melindungiku, yang selalu menyediakan apapun yang aku inginkan. Walau pada akhirnya di pagi hari, aku selalu terbangun dengan khayalan semu dan lamunan kosong. Kosong. benar-benar hampa.
Dan sepertinya tahun 2026 (semoga) benar-benar akan menjadi titik balikku. Aku tidak lagi seperti orang kesurupan lagu-lagu barat yang bernyanyi dengan riang gembiranya. Karena aku sedang tidak sepenuhnya fit, aku tidak memiliki energi untuk bernyanyi layaknya diva sedang konser diatas panggung, persis seperti malam-malam di kebanyakan tahun 2025 yang aku lakukan. Menyetel youtube, memutar playlist barat favorite, kemudian dengan dalih menghapalkan liriknya, aku tenggelam dalam makna dan konteks lagu, bernyanyi sesukanya.
Semoga tahun 2026 bisa mengurangi itu. Bisa tetap mempertahankan skill speaking english dengan mencari alternatif lain selain bernyanyi dan menghapalkan lagu. Bisa bisa bismillah. Atau setidaknya, mengurangi jingkrak kegirangan karena lagu :) Musik adalah salah satu hal yang memang ingin aku kurangi, aku mendapat teguran serius dari diri yang paling dalam, "Ngapalin lagu barat jagonya, tapi hafalan surat-surat di juz 30 apa kabar?". Juz 30 baruan loh, belum juz juz lain. Ya Allah. Yok lah semangat memperbaiki diri. Bismillahirrahmanirrahim

0 Komentar